Daerah
Dedi Mulyadi: Kerusakan Tata Ruang Bogor Picu Banjir Jakarta
TODAY.ID, Bandung – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menyoroti kerusakan tata ruang di wilayah Kabupaten Bogor yang dinilai menjadi pemicu bencana banjir dan longsor, bahkan hingga ke wilayah hilir seperti Jakarta.
Menurut Dedi, perubahan fungsi lahan secara masif di kawasan resapan air dan perbukitan menjadi faktor utama meningkatnya frekuensi bencana dalam beberapa tahun terakhir.
“Saya sangat memahami berbagai problem kerusakan alam di Kabupaten Bogor. Banyak banjir dan longsor itu disebabkan perubahan tata ruang,” ujarnya, Selasa (5/5/2026).
Ia menjelaskan, lahan hijau yang seharusnya berfungsi sebagai daerah resapan air kini banyak dialihfungsikan menjadi permukiman. Perubahan tersebut, kata dia, terjadi dalam skala besar dan berdampak langsung pada keseimbangan lingkungan.
“Bogor itu bukan hanya untuk masyarakat Bogor. Bogor menjaga Bekasi, Karawang, hingga Jakarta,” tegasnya.
Dedi secara khusus menyoroti kawasan Sukamakmur yang mengalami perubahan signifikan. Perbukitan di wilayah tersebut kini banyak beralih fungsi menjadi kawasan perumahan, sehingga meningkatkan risiko longsor serta memperbesar potensi luapan air ke daerah bawah.
Sebagai langkah penanganan, Pemerintah Provinsi Jawa Barat tengah berupaya mengembalikan fungsi tata ruang di Bogor guna menjaga keseimbangan ekosistem.
Upaya tersebut mencakup perlindungan kawasan hulu, aliran sungai, serta danau agar tetap berfungsi optimal.
“Kami berusaha mengembalikan tata ruang Bogor agar gunung, aliran sungai, dan danau tetap terjaga, sehingga bencana tidak datang setiap waktu,” katanya.
Ia menegaskan, pemulihan tata ruang tidak hanya penting bagi Bogor, tetapi juga menjadi kunci untuk melindungi kawasan aglomerasi yang lebih luas dari ancaman bencana berulang. Karena itu, Dedi mengajak semua pihak untuk menghentikan eksploitasi ruang yang mengabaikan aspek lingkungan.
“Kalau ingin Bogor, Bekasi, Karawang sampai Jakarta terbebas dari bencana, mari kita jaga Bogor agar tidak hanya menjadi pusat eksploitasi, tetapi tetap mempertahankan keasrian alamnya,” pungkasnya.(*)