Peristiwa

Siswi SMP di Bandung Jadi Korban Asusila Secara Berkelompok

Published

on

Barang bukti hasil visum dan pakaian korban. (Foto: Ist)

TODAY.ID, Bandung – Seorang siswi SMP asal Gedebage, Kota Bandung, menjadi korban pemerkosaan berkelompok secara brutal oleh enam pemuda.

Sebelum digilir, korban berinisial Bunga (nama samaran) dianiaya dan dicekoki minuman keras serta obat-obatan terlarang oleh para pelaku.

​Kasus kekerasan seksual anak di bawah umur Bandung ini langsung memicu reaksi keras dari publik dan otoritas hukum setempat akibat kekejaman berlapis yang dialami korban.

​Peristiwa kelam ini bermula dari interaksi di ranah digital. Kuasa hukum korban dari LBH Golkar Kota Bandung, Putri Ilmia Dzikri Anindhita, membeberkan kronologi bagaimana korban bisa masuk ke dalam jebakan pelaku.

​”Sudah izin pergi dari habis Maghrib, lalu dia gak ada kabar hingga malam. Baru jam 9 pagi besoknya si anak itu bisa dihubungi,” ungkap Putri saat menjelaskan awal hilangnya korban pada Minggu malam, 28 Juni 2026.

Barang bukti hasil visum dan pakaian korban. (Foto: Ist)

​Korban yang baru mengenal salah satu pelaku selama satu hari melalui aplikasi WhatsApp, bersedia diajak pergi bermain. Namun, situasi berubah mencekam ketika korban dibawa ke wilayah Sapan, Kabupaten Bandung.

Di lokasi tersebut, para pelaku memaksa korban mengonsumsi minuman keras dan pil terlarang hingga kondisi fisiknya melemah. Setelah tidak berdaya, korban dianiaya secara fisik dan diperkosa secara bergilir oleh sekitar enam orang pria.

​Keesokan paginya, para pelaku membuang korban begitu saja di tepi jalan dalam kondisi trauma berat. Korban kemudian menghubungi keluarganya untuk meminta pertolongan penjemputan.

​Pihak keluarga bertindak cepat pasca-kejadian. Mereka langsung melakukan visum medis dan melaporkan kejahatan ini ke Polresta Bandung.

Penegak hukum bergerak taktis dengan menangkap tiga orang pelaku. Dua di antaranya telah dikonfirmasi berstatus dewasa, sementara satu lainnya masih di bawah umur.

Barang bukti hasil visum dan pakaian korban. (Foto: Ist)

​Putri Ilmia menegaskan bahwa hukum harus berjalan tanpa kompromi. Ia secara terbuka menolak upaya penyelesaian di luar pengadilan yang sempat ditawarkan oleh pihak luar.

​”Tentu kami juga ingin memberikan keadilan lah buat korban ini. Sekarang juga korban kondisinya trauma, sampai dia ingin pindah sekolah,” pungkas Putri secara tegas.

​Komitmen serupa disuarakan oleh pimpinan DPRD Kota Bandung sekaligus Ketua DPD Partai Golkar Kota Bandung, Edwin Senjaya.

Edwin menyatakan bahwa lembaganya mengawal ketat kasus ini dan memastikan tidak ada celah bagi penyelesaian damai atau kekeluargaan.

Menurutnya, tindakan para pelaku sangat keji dan di luar batas kemanusiaan. Oleh karena itu, hukuman maksimal wajib dijatuhkan demi memberikan efek jera.(*)

Laman: 1 2 3

Exit mobile version